Tulisan ini dapat dilihat di sumber aslinya :

http://danangambarprabowo.wordpress.com/2011/12/06/all-about-seleksi-mahasiswa-berprestasi-mawapresmapres-nasional/

http://pindonesiaku.blogspot.com/p/mawapres-2012.html

Bissmillahirrahmannirrahim…

Tulisan ini terwujud dari akumulasi pertanyaan yang saya terima melalui dunia maya yang bertanya bagaimana caranya ikut seleksi mahasiswa berprestasi (Mawapres) nasional dan apa saja kiat-kiatnya. Penuturan dalam tulisan ini saya dasarkan atas pengalaman pribadi ketika mengikuti ajang kompetisi ini pada tahun 2007 silam ketika masih duduk di bangku S1 Institut Pertanian Bogor (IPB). Bisa saja info yang saya berikan di sini masih berlaku untuk seleksi mawapres setelahnya, namun mungkin saja sudah out-dated (kadaluarsa)

 

karena peraturan dan mekanisme seleksinya sudah diperbaharui setelah tahun 2007 itu. Anda bisa mencari berita updatenya di universitas Anda ataupun berkunjung ke website DIKTI dan lainnya. Apapun itu, setidaknya semoga sedikit banyak tulisan ini dapat menjadi gambaran dasar yang bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Namun pesan yang menurut saya penting untuk saya sampaikan adalah: “Mawapres itu hanyalah satu dari sekian banyak kompetisi mahasiswa yang bisa Anda ikuti. Tidaklah menjamin seseorang yang menjadi mahasiswa berprestasi tingkat nasional sekalipun masa depannya akan terjamin 100% cerah dan sukses tanpa hambatan. Dan tidak menjamin pula bahwa siapa saja yang terpilih menjadi mahasiswa berprestasi nasional predikatnya lebih baik dari mahasiswa lainnya. Predikat seseorang tidaklah ditentukan semata dari sebuah kompetisi seperti ini, namun ada banyak faktor lainnya yang turut mempengaruhi. Bagi yang tidak terpilih, tidak perlu berlebihan dalam kesedihan atau kekecewaan, bagi yang terpilih sesungguhnya itu adalah awal dari pembuktian dan tanggung jawab kepada “dunia” apakah Anda memang layak terpilih sebagai mawapres setelah seleksinya. Tak sedikit yang menjadi mawapres, namun kemudian “hilang” tak terdengar seletelahnya. Anda dilihat bukan saja saat “menang”, namun bagaimana Anda mampu menjadi “mawapres” yang bisa bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain setelahnya :) … Namun jangan pula beranggapan bahwa harus jadi mawapres dulu baru bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk orang lain… jangan tunggu jadi mawapres untuk dapat memberikan motivasi dan inspirasi… tapi mulailah dari sekarang dengan apapun predikat yang Anda miliki untuk menginspirasi dan memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang :) Insya Allah…

Well, mari kita mulai…

Penjelasan teknis mengenai persyaratan Seleksi Mahasiswa Berprestasi dari DIKTI dapat Anda download di sini sebagai pedoman umum:

CLICK HERE!

Di dokumen itu sangat jelas sekali persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa ikut dalam seleksi mawapres. Silakan dibaca secara teliti apakah syarat-syarat tersebut Anda miliki atau belum. Sekiranya belum, upayakan untuk dapat memenuhi syaratnya. Jangan tanya ke saya bagaimana jika ada syarat yang tak dimiliki, karena jawaban saya akan sama: “Penuhi semua syaratnya tanpa kecuali, apapun alasannya”.

Saya akan menjelaskan dari sudut pandang saya pribadi berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan.

Mahasiswa Berprestasi Nasional merupakan kompetisi tahunan yang biasanya diselenggarakan dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional ataupun hari kemerdekaan RI. Tujuan dari kompetisi ini adalah menyeleksi 1 mahasiswa terbaik di tanah air (Ranking 1-3 dari 15 finalis terbaik) berdasarkan berbagai penilaian dan pertimbangan, baik itu prestasi akademik (intra dan ekstra kampus), prestasi ekstrakurikuler (intra dan ekstra kampus), penilaian psikologis dan kemampuan diri (soft skill/hard skill), dan penilaian berdasarkan penulisan dan presentasi karya tulis. Disamping penilaian tersebut juga terdapat pertimbangan-pertimbangan dewan juri yang sifatnya melengkapi penilaian utama. Seleksi dilakukan secara bertingkat dengan pemenang terbaik (juara 1) saja yang akan lanjut pada tahap selanjutnya.

Kompetisinya dimulai dari bagian terkecil dari Universitas yaitu Program Studi/Departemen/Jurusan. Di sini mekanisme seleksinya diserahkan kepada masing-masing jurusan, sehingga perbedaan sistem seleksi antar jurusan bisa saja terjadi. Misal tahun 2007 silam, tak ada yang mendaftarkan diri dalam seleksi mawapres jurusan selain saya sendiri, sehingga tanpa seleksipun saya sudah lolos ke tahap fakultas. Namun di jurusan lain, kompetisinya sudah berlangsung cukup ketat dengan mekanisme yang yang sangat detail (karya tulis dan presentasi, wawancara bahasa inggris, seleksi dokumen, dan lainnya), hanya rangking 1 saja yang kemudian akan maju ke seleksi tingkat fakultas. So, kenali bagaimana mekanisme seleksi di jurusan Anda untuk bisa lolos ke tahap selanjutnya. Bertanya ke orang yang tepat di jurusan Anda adalah langkah yang baik untuk mendapatkan kiat-kiatnya sekaligus gambaran seleksinya. Selama Anda masih berumur dibawah 25 tahun, Anda bisa ikut kompetisi ini.

Selepas seleksi di jurusan, juara 1-nya akan berkompetisi di tingkat fakultas. Di sini Anda akan bertemu dengan mahasiswa terbaik di setiap jurusan dalam fakultas Anda. Biasanya kompetisi di tingkat ini sudah lebih ketat persaingannya. Namun mekanismenya pun diserahkan ke dewan juri yang dibentuk dalam masing-masing fakultas. Perbedaan mekanisme seleksi masih dapat ditemukan di sini. Namun sebaiknya, panitia seleksi fakultas sudah bisa menerapkan mekanisme seleksi dan penilaian berdasarkan petunjuk dari DIKTI atau setidaknya menggunakan metode penilaian yang sama seperti yang digunakan di tingkat nasional. Tujuannya adalah agar nantinya mahasiswa yang lolos ke tingkat nasional dari fakultas tersebut sudah terbiasa dengan mekanisme penilaian yang ada. Sayangnya beberapa kampus masih menggunakan mekanisme seleksi yang sebenarnya kurang relevan untuk menentukan mawapresnya. Sorry to say, masih ada yang ngandalin “jaringan” orang dekat… nepotisme… ataupun memakai penilaian yang sebenarnya bukan penilaian utama dalam mawapres, misalnya si calon adalah anggota massa organisasi yang “berkuasa” di kampus, dia adalah ketua BEM, ketua kelembagaan dan lainnya. Padahal sangat jelas sekali yang menjadi penilaian terbesar adalah: Karya Tulis (dan presentasinya), Prestasinya, dan Kemampuan Bahasa Inggris. Alhasil, mawapres-mawapres yang lolos seleksi melalui mekanisme yang kurang baik… akan langsung tak berkutik ketika berhadapan dengan mawapres yang diseleksi berdasarkan mekanisme yang sesuai standar seleksi mawapres nasional.

Pengalaman saya ketika seleksi fakultas, penilaian yang akan terlihat secara kentara oleh dewan juri dan audiens yang menyaksikan adalah: Karya Tulis dan Presentasinya. Akan bisa dengan cukup mudah melihat apakah calon mawapres fakultas memiliki qualitas penulisan dan presentasi yang baik atau tidak hanya dengan melihat tulisan dan gaya presentasinya. Di sini jelas, mereka yang sudah terlatih dalam ajang kompetisi penulisan semacam LKTM, PIMNAS, dan lainnya akan terlihat sekali pengalamannya. Maka dari itu biasanya para calon mawapres yang ikut seleksi adalah mereka yang sudah punya banyak pengalaman di kampus selama 2-3 tahun, dalam kata lainnya mereka yang berada di tingkat 3 atau 4 masa kuliahnya.

Tak ada larangan bagi mahasiswa tingkat 1 atau 2 untuk ikut seleksi, namun biasanya mereka akan sulit bersaing dalam hal pengalaman dan pencapaian prestasi dibandingkan mahasiswa tk 3 atau 4. Saran saya adalah, perbanyak pengetahuan mengenai penulisan karya tulis ilmiah dan latih kemampuan presentasinya. Ada banyak caranya: ikut klub sains atau organisasi ilmiah di kampus, ikut kompetisi, atau sekedar baca-baca karya tulis para pemenang kompetisi ilmiah, ataupun sekedar nonton presentasi kompetisi ilmiah untuk mendapatkan gambaran bagaimana presentasi yang baik dan benar.

Dari seleksi tingkat fakultas, hanya mawapres terbaik 1 fakultas saja yang akan melaju pada tahap selanjutnya yaitu tingkat universitas. Di tingkat ini kompetisi akan terasa sangat ketat sekali, terlebih lagi jika Anda berada di kampus yang cukup besar dan terkenal karena melahirkan banyak juara-juara dalam berbagai ajang kompetisi. Biasanya seleksi di tingkat universitas sudah menerapkan mekanisme standar nasional.

Hal penting dalam seleksi mawapres adalah mengenai manajemen waktu. Ketahui sejak awal kapan biasanya seleksi mawapres di kampus Anda dilaksanakan, sehingga Anda punya persiapan yang baik sejak jauh-jauh hari. Jika Anda berpikir bahwa Anda bisa menyiapkannya di tengah-tengah ajang seleksinya, itu bukanlah pilihan yang bijak, karena nantinya Anda sendiri akan kesulitan menghadapinya, karena bisa saja seleksi mawapres di kampus Anda bertepatan dengan ujian tengah semester atau akhir semester. Jangan sampai justru salah satunya membuat nilai Anda justru tidak baik. Persiapan terbaik adalah persiapan yang dilakukan secara matang sejak jauh-jauh hari.

Pengalaman saya di seleksi tingkat universitas, penilaian sudah dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari presentasi karya tulis, tes TOEFL/IELTS/TOEIC, wawancara, dan seleksi berkas. Hal penting selain karya tulis yang perlu Anda siapkan adalah curriculum vitae alias CV. CV yang baik adalah yang menggambarkan secara menyeluruh hal-hal atau pencapaian penting dalam “perjalanan” Anda selama di kampus. Baik itu prestasi dalam kampus semisal IPK (ini juga poin penting dalam mawapres), prestasi lokal, nasional, ataupun internasional, dan tentunya pencapaian lainnya misalnya keiikutsertaan dalam training, workshop, atau organisasi. Semua itu memiliki poin-poin tersendiri dalam berkas penilaian. Misal prestasi internasional punya nilai yang lebih tinggi dibandingkan prestasi nasional atau lokal. Jabatan dalam organisasi juga mendapat poin-poin berbeda berdasarkan tingkatannya, misal ketua organisasi mendapatkan poin paling tinggi dalam penilaian keaktifan berorganisasi dibandingkan jika statusnya hanya menjadi anggota. Oleh karenanya semua hal itu penting untuk disiapkan dan dicapai sejak awal masa kuliah Anda. Anda bisa melihat CV lama saya di sini:

CLICK HERE!

CV saya tersebut adalah format biasa yang dulu saya ajukan untuk seleksi ke Jepang. Formatnya mirip dengan CV yang saya ajukan di tingkat universitas. Namun perlu Anda ketahui, CV dengan prestasi melimpah dan pengalaman organisasi yang wah tentu akan terlihat biasa-biasa saja jika Anda menampilkannya seperti CV saya di atas. Maka Anda bisa meniru desain CV dari rekan saya yang juga mawapres IPB 2007, Mbak Nur Hasanah (contoh filenya bisa minta ke beliau hehe).

Yang menarik dari desain CV-nya adalah, beliau membuat CV-nya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti booklet atau majalah dengan sampul yang menarik. Kesannya lebih rapi dan profesional dan bagi dewan juri tentu itu bisa menjadi pertimbangan tersendiri, meski tidak masuk dalam penilaian. Tapi jangan juga terlalu berharap banyak jika CV-nya biasa-biasa saja kemudian didesain bagus akan mendatangkan hasil yang luar biasa. Oleh karena itu penting sekali memiliki CV yang bagus ditambah lagi dengan desain berkas yang disusun rapi dan menarik.

Hal penting yang sudah saya sebutkan di atas adalah IPK. Sebaiknya ketika mendaftar untuk mawapres IPK Anda termasuk dalam kategori sangat memuaskan minimal sekali 3.00 lebih tinggi lebih baik. Terus bagaimana jika IPK Anda kurang dari itu? Well, tak ada salahnya tetap mencoba, namun Anda juga perlu ingat bahwa IPK adalah syarat pertama dalam seleksi mawapres, meski komponen-komponen lainnya akan dilihat juga. IPK saya ketika mendaftar mawapres 2007 di IPB adalah 3.30, bukan termasuk IPK yang tinggi jika dibandingkan mawapres terbaik 1 fakultas lainnya di IPB. Namun, sudah termasuk kategori aman dalam screening awal mawapres.

Seleksi di tingkat universitas biasanya tantangan dan pressurenya cukup tinggi, sehingga kualitas mental calon mawapres universitas juga akan diuji. Di tingkat ini akan kelihatan sikap dan mental para calon mawapres. Mereka yang sangat aktif dalam organisasi atau kelembagaan akan kentara sekali cara bicaranya yang persuasif, argumentatif dan komunikatif namun seringkali penyampaiannya tidak memakai bahasa Indonesia yang baku, karena memang dalam organisasi hal itu tak terlalu dibutuhkan. Mereka yang study oriented student akan juga kelihatan bagaimana ia berbicara secara teratur, kadang kaku, sistematis, dan argumennya kuat, namun seringkali sulit untuk dipahami oleh para audiens atau bahkan dewan juri (hehe… pernah lihat soalnya jurinya pada ga mudeng dengan presentasi karya tulis seorang rekan). Ada juga yang mungkin sangat jarang atau belum pernah presentasi sama sekali, sehingga waktu gilirannya maju, buyar atau justru tak berkutik menyampaikan presentasinya. Nah bagusnya yang seperti apa? Ada banyak contoh tata cara presentasi yang baik dan menarik. Anda bisa belajar dari banyak kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di kampus Anda.

Apakah Anda akan “dibantai” oleh dewan juri saat presentasi Anda? Anda takut??? Well, kalau Anda takut dengan itu berarti Anda mungkin belum siap untuk menjadi mawapres. Bagi saya “dibantai” atau tidak selama seleksi… tak ada bedanya. Selama karya tulis Anda itu memang baik dan kuat pondasi data serta pembahasannya dan Anda memang menguasainya, saya rasa tidak ada yang perlu ditakutkan. Pun ketika misalnya dewan juri “membantai” Anda dengan pertanyaan atau kritikan yang bertubi-tubi itu tak lain dan tak bukan untuk menguji seberapa kemampuan Anda mempertahankan karya tulis ilmiah Anda dan kapan Anda mampu menerima masukan dan kritikan itu. Selama presentasi karya ilmiah, biasanya jika seleksinya di IPB misalnya, akan ada psikolog yang turut memantau sikap kita selama dalam “tekanan” itu. Pertimbangan dari psikolog itu nantinya yang akan menjadi masukan penting dalam seleksi mawapres. Jadi semua aspek dalam diri seorang mawapres akan dilihat dan dinilai.

Dalam sesi wawancara misalnya, dewan juri akan bertanya banyak hal kepada Anda misalnya terkait dengan data CV yang Anda serahkan. Dewan juri sebelumnya akan mengecek berkas CV Anda apakah data yang Anda cantumkan di sana sesuai dengan berkas pendukung yang Anda lampirkan atau tidak. Berkas lampiran yang mana??? Yaitu sertifikat, surat keterangan, atau dokumen pendukung lainnya yang menyatakan secara resmi bahwa Anda adalah pemenang lomba, peserta konferensi, atau anggota/pengurus organisasi. Tanpa itu, data yang Anda tuliskan di CV Anda (meski itu jujur dan memang fakta) akan menjadi sia-sia karena tak ada bukti otentik yang menyertainya. Oleh karenanya sangatlah penting menyiapkan berkas-berkas pendukung itu. Mintalah sertifikat atau surat keterangan jika Anda ikut seminar/konferensi ataupun lomba. Mintalah surat pengantar atau keterangan dari organisasi Anda. Seringkali banyak calon mawapres yang keteteran menyiapkan data pendukungnya alhasil penilaian yang seharusnya tinggi, menjadi berkurang sangat banyak karena tak adanya data pendukung tersebut.

Selain seleksi utama, ada juga tes psikologi yang waktu itu diberikan oleh tim seleksi di IPB dengan mengundang tim psikolog yang memang berpengalaman dalam tes psikologi. Tesnya secara umum sebenarnya sederhana dan mudah, karena intinya adalah kita mengerjakan soalnya sesuai dengan apa yang kita tangkap dan kita tahu, apa adanya. Misalnya Anda diminta untuk menggambarkan diri Anda seperti apa… atau melanjutkan gambar dari pola-pola yang ada di kertas secara bebas… atau bercerita tentang diri Anda sendiri… semuanya itu tak ada istilahnya benar dan salah… namun dari sanalah kecenderungan kepribadian Anda akan terlihat. So, jika Anda terbiasa menjadi orang yang baik dalam kehidupan Anda… insya Allah hasilnya saya rasa juga akan baik… wallahualam…

So… sampai di sini saya sudah menjelaskan secara umum apa saja tahap yang Anda harus lewati dalam seleksi mawapres dalam universitas. Saya akan menjelaskan kiat-kiatnya menyiapkan diri memenuhi syaratnya secara lebih khusus. Namun tentunya bersifat objektif karena diambil dari pengalaman saya pribadi, sehingga bagi yang tidak cocok dengan kiat-kiat yang saya berikan, bisa menyesuaikan dengan kondisinya.

  1. Bagaimana agar IPK minimal tetap 3.00 dari awal kuliah hingga seleksi mawapres?

Jawabannya sederhana sebenarnya, belajar yang serius dan mengulang-ulang materi kuliah Anda, jika perlu latihan yang sering sehingga Anda tidak sekedar bisa mengerjakan soal-soal dalam UTS atau UAS, namun juga paham dengan apa yang Anda pelajari. Believe me… ilmu yang Anda kira tak berguna selama kuliah… insya Allah nantinya akan Anda sadari sangat berguna di masa depan, jadi jangan sia-siakan kesempatan untuk belajar. Usahakan setiap ujian Anda mendapat nilai minimal B, susah? Ya mungkin saja, tapi bukan berarti ga bisa, kan ya? Paksa diri, jalan kesuksesan memang ga mudah. Jika malas adalah alasannya… saya hanya akan bilang, how pathetic you are (sorry to say…)! Apa Anda gak pengen lihat orang tua Anda bangga kalo kita punya prestasi yang bagus? Motivasi terbaik saya adalah membahagiakan orang tua dan itu selalu berhasil membuat saya bersemangat. Tentu Anda bisa mencari motivasi Anda sendiri… fleksibel saja.

  1. Bagaimana agar data CV kita bagus?

Data CV akan bagus kalo kita aktif dalam berbagai kegiatan selama menjadi mahasiswa. Bisa ikut dalam organisasi yang baik dan terarah serta punya tujuan yang memang dapat membuat Anda menjadi lebih baik, atau ikut seminar dan konferensi, aktifitas sosial atau aktifitas yang sifatnya sementara misalnya menjadi panitia suatu acara.

Di sini saya tekankan, bukan berarti karena pengen punya banya data untuk CV kemudian Anda ikut banyak sekali organisasi (umumnya ini kesalahan strategi yang sering dilakukan oleh banyak mahasiswa baru)… cukuplah Anda ikut 1-2 organisasi yang benar-benar BAIK dan Anda aktif di dalamnya dalam berbagai kegiatannya. Mengapa saya tekankan organisasinya harus baik? Karena tidak sedikit organisasi yang kelihatannya bagus dan solid di luar, namun di dalamnya justru “menghancurkan” diri Anda, bahkan seringkali tanpa Anda sadari. Anda boleh saja bergabung dalam organisasi yang memang Anda SUKA berada di dalamnya, tapi SUKA saja ga cukup. Organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu mendidik Anda  menjadi insan yang rabbani, manusia yang baik, dan bukannya mendoktrin Anda dengan sesuatu yang justru menghancurkan pondasi dasar Anda baik saat recruitment-nya atau dalam aktivitasnya. So, pilihlah organisasi dengan bijak.

Misal pengalaman saya di IPB, saya pernah “mencoba dahulu” beberapa organisasi untuk kemudian menentukan manakah yang terbaik untuk saya selama berada di IPB dan masa depan. Ada organisasi yang jelas-jelas menyebutkan “ISLAM” di dalamnya, namu sewaktu open recruitment justru mereka menggoyahkan pondasi pemahaman tentang Islam dan Iman para calon anggota dengan pertanyaan yang menurut saya sangat bodoh untuk ditanyakan oleh para seniornya, semisal: “Sejak kapan kamu jadi muslim ?” “Kamu kalo sudah sholat masih do’a gak? Lho ngapain do’a, kan sholat dah termasuk do’a…?” atau pertanyaan super tolol lainnya yang hanya berlandaskan logika kelas rendahan. Sewaktu saya jawab pertanyaan “dodol” itu dengan logika balik:

“Saya muslim sejak ruh ditiupkan ke dalam diri saya saat berada di dalam janin ibu saya. Ada di dalam Al Qur’an. Nah Anda sendiri sejak kapan muslimnya, mas?”

Atau…

“Wah… mas sendiri tahu gak bedanya antara do’a dan sholat? Kalo menurut mas sholat itu sama dengan do’a, coba dong bagian mana dari sholat yang ada do’anya dan artinya apa ya mas?”

Eh yang ada dianya malah marah-marah hehe…  apa organisasi yang beginian yang mau diikuti? Belum lagi kalo melihat pergaulan di dalam organisasi tersebut yang justru sangat jauh dari yang namanya Islam… tak ada batasan antara lelaki dan perempuan, penampilan tak sedikit yang urakan, atau bahkan sholat saja ga dikerjakan… lha… apa yang seperti ini yang ingin dijadikan organisasi selama kuliah? Pertanyaan2 seperti di atas bisa sangat berbahaya bagi para mahasiswa baru yang mungkin masih awam dan butuh banyak bimbingan.

Hehe… malah ngalor ngidul saya bahasnya. Intinya adalah berhati-hatilah dalam memilih “teman-teman” Anda, karena merekalah yang akan mempengaruhi lingkungan Anda nantinya.

Selama di IPB saya beruntung bisa memilih organisasi yang benar-benar bisa menjadikan diri saya menjadi pribadi lebih baik, semisal saya aktif di unit kegiatan mahasiswa (UKM) Taekwondo dan Karate (karena memang hobi sejak kecil), ikut dalam klub fotografi, dan juga aktif di lembaga dakwah tarbiyah fakultas dan kampus di bagian ilmiahnya. (Sayang waktu itu belum ada Forum for Scientific Studies (FORCES) IPB). Dari semua organisasi itu saya benar-benar mendapatkan manfaat yang luar biasa.

Cara lain menambah data CV adalah sering lihat informasi kompetisi baik skala lokal, nasional, atau internasional. Bisa melalui mading kampus, di bagian kemahasiswaan rektorat, atau bisa juga search lewat internet. Begitu juga mengenai seminar atau konferensi. Namun yang paling utama adalah, bukan karena ingin CV kita jadi bagus barulah kita ikut aktif… tapi niatkanlah untuk mendapatkan ilmu. Untuk bahasan mengenai konferensi ilmiah… silakan baca tulisan saya sebelumnya. Dari aktif berorganisasi yang baik atau turut dalam berbagai kompetisi dan seminar ini pula nantinya Anda akan terlatih dalam sikap dan tutur katanya.

  1. Bagaimana melatih kemampuan bahasa Inggris?

Sebenarnya atau mungkin lebih tepatnya… seharusnya setiap lulusan SMA di tanah air sudah bisa berbahasa inggris… karena sejak SMP atau bahkan sejak SD, kita sudah mendapatkan pelajaran bahasa Inggris. Hanya saja kemudian banyak “alasan” yang menjadikan kita ga bisa-bisa berbahasa Inggris. Namun bagi Anda yang memang belum bisa berbahasa Inggris… maka sejak tingkat 1 kuliah Anda harus benar-benar melatih kemampuan berbahasa Inggris Anda dengan benar-benar serius. Anda bisa memulai dengan ikut kursus intensif berbahasa Inggris ataupun belajar secara mandiri. Misalnya dengan mendengarkan lagu-lagu atau nonton film berbahasa Inggris, membiasakan membaca buku bahasa Inggris… atau bahkan dengan main game berbahasa Inggris. Yang jelas… tujuan utamanya adalah belajar bahasa Inggris dan kemudian membiasakannya.

  1. Softskill lainnya perlukah?

Perlu! Keterampilan Anda dalam menguasai suatu hal akan sangat mendukung Anda nantinya. Kemampuan menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris, misal bahasa Jerman, Perancis, Mandarin, Jepang, atau lainnya bisa menambah penilaian dalam seleksi mawapres. Penguasaan Anda dalam keterampilan tertentu yang membuahkan hasil juga bisa menjadi pertimbangan. Misal: Anda suka dengan taekwondo, ikut UKM Taekwondo, kemudian menang dalam kompetisi taekwondo itu adalah hal yang akan sangat berguna nantinya.

  1. Saya ga punya dana banyak untuk mengasah diri, lalu bagaimana?

Well… dana bukanlah satu-satunya hambatan saya rasa… ada banyak yang bisa survive menjadi terbaik di bidangnya bahkan tanpa modal dana yang banyak. Asalkan Anda bisa tahu caranya. Saya rasa di kampus akan ada banyak kakak kelas Anda yang bisa dimintai masukan mengenai hal ini. Ada banyak kompetisi yang ga membutuhkan dana besar untuk modalnya, hanya modal rental komputer, ngeprint, dan jilid mungkin. Namun jika itu Anda siapkan dengan maksimal, insya Allah hasilnya pun akan sangat bagus. Saat ini ada banyak pelatihan2 karya tulis atau semacamnya yang kadang gratis atau kalaupun membayar tak terlalu mahal, silakan infonya dicari di kampus Anda masing-masing.

Dari 5 poin dan penjelasan di atasnya adakah yang ingin Anda tanyakan? Silakan ketikkan di bagian comment di bawah.

Saya akan lanjutkan dengan penjelasan tahap seleksi mawapres di tingkat nasional. Setelah seleksi tingkat universitas dilaksanakan. Ada 2-3 tahap lagi yang harus dilalui oleh mawapres terbaik 1 setiap universitas. Mekanismenya sedikit berbeda antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Mawapres terbaik 1 universitas negeri akan dapat langsung mengajukan berkas persyaratan untuk screening ke tahap final seleksi mawapres nasional. Sementara mawapres dari perguruan tinggi negeri harus kembali bersaing di tingkat kopertis (koordinasi perguruan tinggi swasta) sesusai dengan wilayahnya. Dari setiap kopertis, mawapres terbaik 1 dan 2 berhak mengajukan berkas persyaratn seleksi untuk ke tahap final seleksi mawapres nasional. Mengapa peraturannya seperti ini? Silakan tanyakan ke DIKTI hehe…

Apa saja berkas yang harus disiapkan untuk tahap seleksi mawapres nasional? SAMA dengan berkas yang Anda siapkan sejak dari tahap seleksi di jurusan. Hanya mungkin akan ada masukan dan perbaikan di sana-sini setiap kali Anda lolos melaju ke tahap seleksi berikutnya. Biasanya dewan juri akan berbaik hati memberikan masukan untuk Anda, maka ambil dan laksanakan. Berkas itu antara lain: Karya tulis ilmiah, CV, lembar IPK,  form pendaftaran, surat pengantar dari universitas yang menerangkan bahwa Anda adalah mahasiswa terbaik 1 universitas Anda, serta lainnya.

Tahap seleksi mawapres nasional sendiri ada dua tahap… pertama tahap seleksi berkas dokumen dimana ratusan mawapres terbaik 1 universitas dan terbaik 1 dan 2 kopertis akan diseleksi untuk menentukan 15 finalis terbaik mawapres nasional. Tahap kedua adalah tahap final yang akan mempertemukan 15 finalis terbaik mawapres di ajang nasional. Di tahap ini berarti Anda sudah bisa menyisihkan ratusan mawapres terbaik 1 universitas di tanah air untuk menjadi 15 terbaik nasional. Namun, seleksi nasional tekanan dan kompetisinya lebih ketat lagi. Dan setiap tahunnya mawapres nasional semakin naik level persaingan ketatnya.

Tahun 2007 silam saya mewakili IPB di tingkat nasional. Ketika bertemu dengan 14 finalis terbaik lainnya saya sangat menyadari bahwa mereka adalah sosok-sosok hebat yang siap untuk menjadi yang terbaik. Apapun dan bagaimanapun kondisinya… kompetisi ketat harus dijalankan dan dilalui bersama… meski ya selama kompetisi kita-kita enjoy-enjoy saja dengan canda dan tawa hehe… Sosok-sosok mawapres nasional 2007 yang saya temui waktu itu di kemudian hari memang benar-benar menjadi orang-orang hebat di bidangnya. Bukan berarti yang tidak lolos di tahap nasional tidak hebat… hanya saja saya waktu itu belum kenal dengan rekan-rekan lainnya… saya yakin merekapun tak kalah luar biasanya :)

Di seleksi tahap nasional… selain berkompetisi, Anda juga bisa menimba ilmu dan pengalaman… tidak hanya kepada sesama rekan mawapres nasional… tapi juga panitia dan para dewan juri yang benar-benar pakar di bidangnya masing-masing, selain juga untuk menjalin jaringan untuk masa depan.

Di tahap nasional, seleksi yang paling berat menurut saya adalah… seleksi wawancara dengan dewan jurinya. Pertanyaannya sungguh “dibuat” sedemikian rupa sehingga menguras pikiran dan kesabaran saya kala itu. Sepertinya memang sengaja untuk melihat daya tahan setiap peserta seleksi. Karena seleksi berlangsung mulai dari pagi jam 8 dan baru berakhir sekitar pukul 22.00 malam kala itu, siapa yang ga fit jasmani dan ruhaninya… mungkin akan cukup berat menghadapinya. Dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya kami harus berpindah-pindah untuk mendapat giliran seleksi. Hampir di setiap sesi seleksi, psikolog selalu ada untuk melihat berlangsungnya ajang seleksi. Dan tugas psikolog-lah yang kemudian memberikan pertimbangan akhir nantinya untuk setiap calon mawapres nasional. Pertanyaan yang diajukan ke saya seingat saya misalnya, yang sedikit nyeleneh dari dewan juri:

“Anda aktif di dakwah kampus? Tarbiyah? Wah pasti Anda PKS nih?” Mendapat pertanyaan yang tak terduga seperti itu, saya jawab saja: “Yang jelas  sih pak… bagi seorang muslim, dia adalah da’i sebelum menjadi apapun… mau PKS atau bukan, dosen atau mahasiswa, juragan atau petani… kalau dianya muslim ya tugas utamanya adalah berdakwah dalam setiap bidang yang ia jalani… tapi iya, Pak… saya di pemilu insya Allah akan milih PKS, tidak salah to?” Hehe… jurinya ga mudeng kayaknya… yo wes ben…

Rekan mawapres saya yang aktif sebagai ketua BEM di universitasnya diberondong dengan pertanyaan misalnya: “Ngapain sih BEM itu sering demo… apa layak kamu sebagai ketua BEM yang sering bolos kuliah untuk demo jadi mawapres?” dan pertanyaan yang benar-benar menguji kesabaran dalam menjawabnya.

Seru…

Seleksi nasional yang saya ikuti tahun 2007 silam mekanismenya relatif sama dengan seleksi di tahap universitas (IPB). Yang membedakan hanyalah prosedurnya. Misal untuk tahap bahasa Inggris… mekanismenya adalah peserta mengambil satu amplop tertutup yang isinya adalah tema yang harus disampaikan secara oral di hadapan dewan juri dan peserta lainnya. Anda diberikan waktu 1 menit untuk menyusun kerangka pemikiran kemudian menyampaikan penjelasan tema yang diberikan dalam amplop selama sekitar 7 menit. Setelahnya, dewan juri atau peserta akan bertanya. Nah di sini… kadang bisa jadi ajang “bunuh-bunuhan” karakter dan gagasan antara peserta hehe… beruntung waktu itu peserta di ruangan saya adem ayem saja saling mengerti untuk tidak saling menjatuhkan hehe…

Selama 2 hari para mawapres akan diuji, dan untuk dua hari berikutnya mereka akan menghadiri acara-acara kenegaraan (misal mengikuti sidang umum MPR menjelang hari kemerdekaan di gedung MPR-DPR bersama sosok-sosok terbaik lainnya di bidangnya… para pemimpin daerah, pelajar terbaik nasional, dosen dan guru terbaik / teladan nasional, dan sebagainya). Hari berikutnya mereka akan mengikuti upacara bendera di istana negara Jakarta. Dan tentunya mendengarkan pengumuman pemenangnya di kementrian pendidikan nasional.

That was one of the best thing of my life… :)

Demikian mungkin penjelasan umum tentang seleksi mawapres yang saya lalui di tahun 2007 silam dari tahap jurusan hingga tahap nasional. Tentu ada banyak pembaharuan di sana-sini sering dengan waktu. Dan semakin ke sini semakin hebat sosok-sosok yang menjadi mawapres nasionalnya. Namun menjadi juara atau pemenang hanyalah satu hal… dalam kompetisi menang dan kalah adalah dua hal yang pasti ada, tak mungkin terpisahkan. Proses menuju ke sanalah yang tak kalah pentingnya. Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan penjelasan dalam tulisan ini.

Komentar dan pertanyaan terbuka untuk siapa saja… silakan disampaikan lewat kolom comment di bawah ini :)